WELCOME TO PURWADI BLOG'S

Sabtu, 08 Juni 2013

CONTOH SKHU SD SEMENTARA KECAMATAN DENTE TELADAS KAB. TULANG BAWANG

                      PEMERINTAH KABUPATEN TULANG BAWANG
                                             DINAS PENDIDIKAN
   SD .................................................
               Alamat: ....................................................................................................................


SURAT KETERANGAN HASIL UJIAN (SKHU) SEMENTARA
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SD .............................................................. Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang  Bawang menerangkan bahwa :

Nama                           : 
Tempat tangal lahir        :
Nomor Peserta Ujian    :
NISN                           : 
Sekolah  Asal               :

Telah mengikuti ujian sekolah dan ujian nasional Tahun Pelajaran 2012/2013 dan dinyatakan LULUS UJIAN dengan hasil sebagai berikut:

No.
Mata Pelajaran
Nilai
Rata-rata Rapor
Nilai
Ujian Sekolah
Nilai Sekolah)*
I
Ujian Sekolah
1.Pendidikan Agama
2.Pendidikan
3.Kewarganegaraan
4.Bahasa Indonesia
5.Ilmu Pengetahuan Alam
6.Ilmu Pengetahuan Sosial
7.Seni Budaya dan Keterampilan
8.Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan



II
Muatan Lokal
1.Bahasa Lampung
2.Baca Tulis Alquran
3...............................



Jumlah



Rata-rata




)*Nilai Sekolah = 40% nilai rata-rata rapor + 60 % nilai ujian sekolah

No.
Mata Pelajaran
Nilai
Ujian Sekolah
Ujian Nasional
Nilai Akhir)*
III
Ujian Nasional
1.Bahasa Indonesia
2.Matematika
3.Ilmu Pengetahuan Alam



Jumlah



Rata-rata




)*Nilai Akhir = 40% Ujian Sekolah + 60 % Ujian Nasional

Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) sementara dapat dipergunakan untuk keperluan penerimaan peserta didik baru atau keperluan lain sesuai dengan kebutuhan dan hanya berlaku sampai dengan diterbitkanya Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN)  dan ijazah yang asli.

Tulang Bawang, 8 Juni 2013
Kepala Sekolah,


............................









Senin, 03 Juni 2013

TUGASKU/KB.G.MENENG/SMT6/K.MENULIS/TT.PURWADI

1. Jelaskan pengertian:
    a. karangan narasi,
    b. karangan deskripsi,
    c. karangan eksposisi
    d. karangan argumentasi, dan
    e  karangan persuasi.

2. Jelaskan langkah-langkah menulis:
    a. karangan narasi,
    b. karangan deskripsi,
    c. karangan eksposisi
    d. karangan argumentasi, dan
    e  karangan persuasi.

3. Buatlah contoh:
    a. karangan narasi,
    b. karangan deskripsi,
    c. karangan eksposisi
    d. karangan argumentasi, dan
    e  karangan persuasi.
    Masing-masing karangan minimal 3 paragraf.

Jawaban dikirim ke prwdprwd11@gmail.com tanggal 7 Juni 2013





Rabu, 21 November 2012

Puisi

GURUKU PAHLAWANKU 
Oleh Upee 

Andai kata matahari tiada 
Dunia akan beku dan bisu pelangi tiada akan pernah terpancar 
kehidupan tiada akan pernah terlaksana 
Disaat titik kegalauan menghampiri 
Terlihat setitik cahaya yang kami cari 
Yang nampak dari sudut-sudut bibirmu
 Dan gerak-gerik tubuhmu 
Engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu 
Yang hampir menjerumuskan masa sepan kami 
Engkau terangi kami dengan lentera ilmu mu 
Yang tiada akan pernah sirna di terpa angin usia 
Guru........ 
Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan 
Disaat kami tak mendengarkan mu 
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah 
Untuk mendidik kami 
Darimu kami mengenal banyak hal 
Tentang mana warna yang indah 
Tentang garis yang harus di lukis 
Juga tentang kata yang harus dibaca 
Engkau membuat hidup kami berarti 
Guru...... 
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terimakasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku

Rabu, 23 November 2011

SAMBUTAN MENDIKBUD DALAM RANGKA HARI GURU NASIONAL 2011

SAMBUTAN
MENTERI PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN DALAM PERINGATAN HARI GURU NASIONAL
2011 25 NOVEMBER 2011

Assalamu’alaikum Wr. Wb. dan Salam Sejahtera, Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga kita masih bisa menjalankan aktivitas pengabdian di dunia pendidikan dan kebudayaan dengan baik.

Perkenankan saya atas nama pribadi dan Pemerintah, menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, komitmen, dan segala ikhtiar yang telah dilakukan oleh para Guru, tenaga pendidik, dan kependidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam kesempatan ini pula, saya ucapkan selamat memperingati Hari Guru Nasional tahun 2011 dan sekaligus selamat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Hadirin sekalian yang saya muliakan
Seorang guru teladan pernah ditanya mengapa dia tertarik menjadi guru? Jawabnya adalah karena guru (bahkan hanya guru) yang dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan. Dia tidak berharap dapat menyentuh masa depan karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi cukup dapat menyentuh pinggiran masa depan, karena melalui persinggungan dengan peserta didiknya yang mewakili masa depan tersebut, profesi guru menjadi jauh lebih menarik daripada profesi yang lain. Itulah sesungguhnya jawaban Guru Teladan.

Kemampuan menyentuh masa depan, walaupun hanya pinggirannya, menempatkan guru pada tanggung jawab yang sangat berat, namun mulia; karena kemampuan dan kesempatan itu tidak dimiliki yang lain. Pada dirinya tertumpu beban tanggung jawab menyiapkan masa depan yang lebih baik, yaitu dengan berfungsi sebagai jembatan bagi para peserta didik untuk melintas menuju masa depan mereka.

Ke masa depan yang bagaimana peserta didik akan dibawa tergantung pada jembatan itu. Dari tiga penggalan masa (masa lalu, masa kini, dan masa depan), masa depanlah yang menjadi tujuan dengan memanfaatkan sebaik-baiknya masa lalu dan masa kini. Tugas guru sangat mulia karena menyiapkan generasi penerus demi masa depannya yang lebih baik, lebih berbudaya, dan sekaligus membangun peradaban. Dengan demikian, secara hakiki dan asali (genuine) guru adalah mulia, menjadi guru berarti menjadi mulia, bahkan kemuliaannya sama sekali tidak memerlukan atribut tambahan (aksesori). Memuliakan profesi yang mulia (guru) adalah kemuliaan, dan hanya orang-orang mulia yang tahu bagaimana memuliakan dan menghargai kemuliaan.
Rata Tengah
Hadirin sekalian yang saya hormati
Bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukkan bahwa guru berbeda dari profesi lainnya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai profesi, guru mendapat kehormatan memiliki Hari Guru. Kehormatan yang tinggi ini memiliki implikasi pentingnya profesionalitas guru. Profesionalitas guru akan terasa hasilnya pada masa depan, yang apabila salah arah, akan mustahil diputar kembali untuk memperbaikinya, karena pendidikan adalah proses yang tidak bisa dibalik (irreversible process). Dampaknya yang masif di masa yang jauh di depan mengharuskan upaya pemeliharaan dan peningkatan profesionalitas guru yang dilakukan secara berkelanjutan dan seksama. Kita tidak boleh terjebak hanya karena pertimbangan kepentingan praktis sesaat.

Hubungan antara profesionalitas dan kompetensi ibarat keberadaan unsur oksigen di dalam air. Mustahil akan ada air tanpa kehadiran unsur oksigen. Oleh karena itu, pemikiran tentang pentingnya pengukuran (uji) kompetensi yang dikaitkan dengan proses sertifikasi adalah suatu keniscayaan. Hal ini dilakukan untuk mengukur lebih teliti kesiapan menjalani profesi guru dan menjamin bahwa masa depan tidak salah arah. Ke depan bukan hanya kesiapan yang akan diukur, tetapi lebih jauh lagi adalah kelayakan seseorang menjalani profesi guru. Dengan cara ini kita dapat menjamin bahwa menjadi guru, selain karena panggilan hati nurani, ia telah siap dan layak menjalani profesi guru. Pemberian perhatian secara khusus mulai dari perekrutan calon guru, pendidikan guru, peningkatan profesionalitas, sampai dengan perlindungan dan kesejahteraan guru harus dilakukan. Kelayakan menjalani profesi guru sangat diperlukan mengingat tugas guru memiliki ukuran multi-dimensional yang sangat kompleks dan terkait dengan penyiapan generasi penerus yang lebih baik dalam segala hal. Ketidaklayakan guru, bisa berakibat terjadinya kecacatan dalam proses pembentukan pola pikir, pengasahan mata hati, dan pembiasaan perilaku sosial peserta didik. Sebagai jembatan ke masa depan, guru harus memastikan bahwa peserta didiknya adalah jembatan bagi masa depan mereka menuju ke masa depan berikutnya.

Hadirin sekalian yang saya hormati
Dalam mempersiapkan masa depan, guru tidak cukup hanya mengajarkan apa yang diketahuinya karena hal itu bisa menjadi tidak relevan lagi pada masa ketika peserta didik menjalani kehidupan mereka sendiri. Guru yang baik akan menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham, tetapi guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi dan memotivasi muridnya, sehingga mampu berbuat sesuatu yang baik dengan kemampuannya sendiri. Di sinilah pentingnya Guru sebagai sumber keteladanan dan kemampuan dalam menumbuhkan motivasi.


Sebagaimana yang diujarkan dalam kata-kata bijak, satu tindakan baik dari seorang murid yang berasal dari inspirasi seorang guru adalah lebih penting daripada semua hapalan dan ilmu yang diperolehnya selama sekolah. Kemampuan membentuk karakter peserta didik tidak boleh terabaikan, tetapi menjadi satu kesatuan dari tugas guru. Tugas dunia pendidikan adalah membentuk kepribadian yang unggul dan mulia, serta mengajarkan pengetahuan dan keterampilan. Kemampuan semacam ini hanya dimiliki oleh sedikit orang yang berbakat, berhasrat, dan berkemampuan menjadi guru. Orang yang sedikit itu adalah Ibu dan Bapak Guru. Berbahagialah wahai Ibu dan Bapak guru sekalian yang telah terpilih mengemban tugas suci kemanusiaan ini.

Hadirin sekalian yang saya hormati
Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Selamat berhari Guru, harinya orang-orang mulia yang tugasnya menyiapkan kemuliaan bagi generasi menuju masa depan yang lebih mulia; orang yang paham bagaimana menjaga kemuliaan dan akhirnya, insya- Allah kita semua akan dimuliakan oleh Yang Maha Mulia.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta,21 November 2011
Menteri Pendidikan dan Kebudayaa

Muhammad NUH


Selasa, 22 November 2011

SEJARAH SINGKAT PGRI

PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Cikal bakal organisasi PGRI adalah diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, kemudian berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.
Semangat kebangsaan Indonesia telah lama tumbuh di kalangan guru-guru bangsa Indonesia. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Sejalan dengan keadaan itu maka disamping PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan yang lainnya.
Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia. Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”
Pada tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.
Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas.
Semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah – guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945 – seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.
Dengan semangat pekik “merdeka” yang bertalu-talu, di tangan bau mesiu pemboman oleh tentara Inggris atas studio RRI Surakarta, mereka serentak bersatu untuk mengisi kemerdekaan dengan tiga tujuan :
1. Memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Jiwa pengabdian, tekad perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia. Dalam rona dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam pengabdiannya sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat unitaristik, independen, dan tidak berpolitik praktis.
Untuk itulah, sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional, dan diperingati setiap tahun.
Semoga PGRI, guru, dan bangsa Indonesia tetap jaya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tulisan ini adalah Teks resmi yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar PGRI, untuk dibaca pada upacara memperingati HUT PGRI dan Hari Guru Nasional, 25 November 2008.

SUSUNAN ACARA UPACARA PERINGATAN HUT PGRI KE-66 dan HARI GURU NASIONAL KE-19 KECAMATAN DENTE TELADAS 25 November 2011

1. PEMIMPIN UPACARA MEMASUKI LAPANGAN UPACARA
2. BAPAK CAMAT KECAMATAN DENTE TELADAS SELAKU PEMBINA UPACARA MEMASUKI
LAPANGAN UPACARA, BARISAN DISIAPKAN
3. PENGHORMATAN KEPADA PEMBINA UPACARA
4. LAPORAN PEMIMPIN UPACARA KEPADA PEMBINA UPACARA BAHWA UPACARA SIAP
DIMULAI
5. MENGHENINGKAN CIPTA DIPIMPIN OLEH PEMBINA UPACARA
6. PEMBACAAN TEKS PANCASILA DIPIMPIN OLEH PEMBINA UPACARA DAN DIIKUTI OLEH
SELURUH PESERTA UPACARA
7. PEMBACAAN TEKS PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945
8. PEMBACAAN SEJARAH SINGKAT PGRI
9. AMANAT PEMBINA UPACARA
10.MENYANYIKAN LAGU ’MARS PGRI’ & ’HYME GURU’ OLEH PETUGAS
11.PEMBACAAN DOA
12.LAPORAN PEMIMPIN UPACARA KEPADA PEMBINA UPACARA BAHWA UPACARA SIAP
DIMULAI
13.PENGHORMATAN KEPADA PEMBINA UPACARA
14. PEMBINA UPACARA BERKENAN KEMBALI KE TEMPAT SEMULA
15. UPACARA SELESAI – BARISAN DIISTIRAHATKAN